Kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan di dunia ini. Sekali lagi, APAPUN. Hanya saja, kita seringkali tidak tahu apa yang kita inginkan, atau tidak benar-benar menginginkannya.
Pemuda, ada kalanya seperti kita, hidup dan merasa dihidupi oleh lingkungan luar, oleh kampus, oleh organisasi, oleh kamar singgah, oleh tempat perkumpulan teman-teman dekat. Hingga dua puluh empat jam habis tersita dengan segudang aktivitas, kadang lupa bahwa diri punya tempat pulang bernama rumah. Di mana ibu merindu, ayah menunggu, adik kakak sanak saudara berharap mendengar monodrama tentang pagi hingga kembalimu.
Chiffon cake: Levitasi. →
Tidak ada yang lebih terasa kesakitan ketika terjatuh dari harapan yang terlanjur meninggi, serupa layang-layang, yang awalnya terkendali benang, namun putus kemudian, beberapa saat selanjutnya hilang.
Aku tidak pernah ingin, begitupun kamu. Terpelanting jatuh dalam kenangan yang semunya terasa…
Mungkin kita memang perlu Superman. Hanya saja, Superman yang lebih manusiawi. Yang mungkin kurus kerempeng, tapi siap melindungi dari berbagai macam godaan. Yang mungkin tidak punya pendengaran super atau ultrasonik, tapi siap mendengarkan. Yang pasti nggak bisa terbang, berpatroli dari angkasa, tapi bisa menjaga. Pandangannya. Perkataannya. Hati kita, kaum wanita.
Tingkat iman itu tak ubahnya dengan anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah suatu pukulan yang hebat mengenai tubuh orang yang mendaki. Kalau tangannya kuat bergantung, kalau kakinya kuat berpijak, dan kalau akal pikirannya tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong akan menaikkannya ke anak yang lebih tinggi.
Hukuman terbesar atas maksiat adalah kebas hati yaitu, perasaan tanpa salah, yang membuat tenang untuk terus berkubang dalam dosa. Berbahagialah orang yang masih punya gelisah atas dosanya setidaknya masih ada iman di sana, yang sedang terluka.
Don’t choose a better man, choose the man who makes you a better woman.
Chiffon cake: Kamu yang beraroma seperti hujan di hari minggu. →
Kamu beraroma seperti hujan di hari minggu.
Pada awal April yang tak tahu menahu tentang aku dan kamu.
Jauh namun seolah lekat dalam setiap dekat ketika airnya mengenai setiap buku-buku jari tanganku. Manis, namun enggan untuk dicicipi karena airnya tak mau tahu bahwa ia berasal dari uapan laut…
Chiffon cake: Every wounds. →
Every wounds has a reminder.
Setiap luka itu membekas.
Mungkin sebagian ada yang mampu terkelupas kemudian memburai hilang seiring berjalannya waktu yang membiru. Namun setiap luka itu pasti memiliki ingatan yang juga membentuk jejas, yang mampu membeberkan dengan luar biasa seksama,…
Page 1 of 3
